Sunday, April 21, 2013

Pengertian Stres


TULISAN 2

Pengertian Stress

A. Definisi Stres dan Faktor Individual dan Sosial yang Menjadi Penyebab Stress

Dalam buku Hawari (2001), stres menurut Hans Selye adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyaikonotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.

Faktor-faktor stres, yaitu:
a. Faktor Sosial
Selain peristiwa penting, tugas rutin sehari-hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turut mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stres.

Dukungan sosial mencakup:
  • Dukungan emosional, seperti rasa dikasihi.
  • Dukungan nyata, seperti bantuan atau jasa.
  • Dukungan informasi, misalnya nasehat dan keterangan mengenai masalah tertentu.
b. Faktor Individual
Saat seseorang menjumpai stressor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stressor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stressor itu yaitu: Berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi stressor itu dan berapa terduganya stressor itu (predictability).


General Adaptation Syndrom (GAS)

Gas adalah respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon yang terlibat di dalamnya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di beberapa buku teks, GAS sering disamakan dengan Sistem Neuroendokrin. 

Ada 3 fase GAS yaitu :
1.   Fase Alarm (Waspada)

Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologisfight or flight dan reaksi fisiologis. Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stres memengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun.

Fase alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.

Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan “ respons melawan atau menghindar “. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.

2.  Fase Resistance (Melawan)

Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stres. Bila teratasi, gejala stres menurun atau normal tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.

3.  Fase Exhaustion (Kelelahan)

Merupakan fase perpanjangan stres yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.

Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mepertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersebut.


B. Tipe-tipe Stress

Tekanan

Tekanan dapat timbul dari dalam dan luar diri kita, terkadang tekanan lebih sering timbul dari luar diri kita yaitu semisal dari lingkungan. Bilamerasa sudah dalam keadaan tertekan kita harus bisa mengutarakannya agar kita bisa terhindar dari keadaan stres tersebut.

Frustasi

situasi ini timbul karena suatu kejadian hal yang tidak mengenakan,semisal kita sudah berusaha belajar dengan baik dengan harapan mendapatkan reward (nilai) yang baik atau sesuai dengan usaha yang kita lakukan,tapi pada kenyataannya nilai yang kita dapat malah buruk,itu mengakibatkan diri seseorang frustasi,terkadang menjurus ke perasaan putus asa.

Konflik

ini bisa timbul di karenakan dua belah pihak mempunyai satu tujuan hanya jalannya berbeda,ini mengakibatkan seseorang terjebak dalam sebuah konflik dan pastinya hal ini akan membuat seseorang stress. Karena tidak semua orang bisa menghadapi konflik yang iya terima,terkadang membutuhkan pihak ke 3 untuk menyelesaikan konflik yang mereka alami.
  • Konflik menjauh-menjauh: individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama tidak disukai. Misalnya seorang pelajar yang sangat malas belajar, tetapi juga enggan mendapat nilai buruk, apalagi sampai tidak naik kelas.
  • Konflik mendekat-mendekat: Individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama diinginkannya. Misalnya, ada suatu acara seminar sangat menarik untuk diikuti, tetapi pada saat sama juga ada film sangat menarik untuk ditonton.
  • Konflik mendekat-menjauh: Terjadi ketika individu terjerat dalam situasi di mana ia tertarik sekaligus ingin menghindar dari situasi tertentu. Ini adalah bentuk konflik yang paling sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus lebih sulit diselesaikan. Misalnya ketika pasangan berpikir tentang apakah akan segera memiliki anak atau tidak. Memiliki anak sangat diinginkan karena pasangan dapat belajar menjadi orang dewasa yang sungguh-sungguh bertanggungjawab atas makhluk kecil yang sepenuhnya tak berdaya. Di sisi lain, ada tuntutan finansial, waktu, kemungkinan kehadiran anak akan mengganggu relasi suami-istri, dan lain sebagainya.

Kecemasan
ini terjadi karena tingkat panik yang berlebihan dan tak bisa mengontrol paniknya itu,dan dia tidak bisa menghadapi keadaan di sekitarnya.

C. Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres

Kita mengatasi stres dengan cara mencari penyebab stress itu sendiri (stressor). Setelah tahu penyebabnya, kita harus bisa memilih mana jalan keluar terbaik untuk masalah kita, jika perlu, dengan meminta bantuan orang lain.

Sumber:
Lazarus, R, S. & Folkman, S. 1984. Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.
Lazarus, A. A. 2006. Learning Theory and The Treatment of Depression. Behavior Research and Therapy, 6, 83-89.


Teori Kepribadian Sehat


TULISAN 1

Teori Kepribadian Sehat

A. Allport


Pandangannya tentang manusia lebih teologi. Kepribadian manusia, sampai taraf tertentu di pengaruhi pengalaman masa lalu, namun perilaku yang membuat “manusia” adalah yang dimotivasi ekspetasi tentang masa depan. Dengan kata lain, kita adalah pribadi yang sehat sampai pada taraf ketika kita membuat dan mencari tujuan serta aspirasi untuk masa depan. Setiap orang berbeda dari yang lain karena memiliki tujuan dan intensi yang dibangunnya sendiri.


Allport hanya menempatkan penempatan yang tidak terlalu besar tentang pertumbuhan kepribadian pada faktor sosial. Ia menyadari pentingnya pengaruh lingkungan dalam membantu pembentukan kepribadian, Allport menekankan bahwa kepribadian memiliki kehidupan sendiri. Cara kita bereaksi terhadap dorongan-dorongan kultural bergantung pada kepribadian kita yang unik dan motivasi dasar kita.

Allport memiliki pandangan optimistik tentang kemanusiaan dengan mempertahankan pendapatnya bahwa manusia memiliki setidaknya kebebasan yang terbatas. Manusia berorientasi terhadap tujuannya, proaktif dan termotivasi oleh beragam pendorong yang kebanyakan berada di dalam ranah kesadaran. Perbedaan dan persamaan manusia sangat penting, namun perbedaan dan keunikan individu mendapatkan penekanan yang lebih besar dalam psikologi Allport.


B. Carl Rogers

Rogers percaya bahwa orang – orang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan – kekuatan tak sadar yang tidak dapat mereka kontrol. Rogers mempertahankan bahwa kepribadian harus diperiksa dan dipahami melalui segi pandangan pribadi klien, pengalaman – pengalamannya sendiri.

Motivasi Orang sehat (Aktualisasi Diri)

Aktualisasi diri yang memelihara dan meningkatkan semua segi individu dalam sistem kepribadian. Kecenderungan aktualisasi memungkinkan organisme dapat bertahan hidup dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan – kebutuhan dasar jasmani.

Makhluk hidup memiliki prinsip untuk tetap dapat hidup serta adanya dorongan untuk maju , adaptasi dalam sebuah lingkungan, serta mengembangkan dirinya sehingga Roger percaya kecenderungan aktualisasi ditemukan dalam semua makhluk hidup.

Perkembangan Diri

  • Self Concept adalah gambaran yang dibentuk melalui suatu akibat dan akan bertambah kompleks interaksi – interaksi dengan orang lain.
  • Penghargaan positif (Positive Regard), yaitu kebutuhan yang memaksa agar terpuaskan dalam pribadi.
  • Penghargaan positif bersyarat (Conditional Positive Regard) dimana kebutuhan yang diberikan dengan rasa tulus , kenyamanan dan tidak akan hilang rasa kasih tersebut.
  • Penghargaan positif tanpa bersyarat (Unconditional Positive Regard) adalah kebebasan yang diberikan kenyamanan serta kasih tanpa memperlihatkan dengan norma – norma yang telah ada.

5 sifat orang yang berfungsi sepenuhnya menurut Rogers:
1. Keterbukaan pada Pengalaman
Kepribadian yang sangat fleksibel, tidak hanya melihat dari sudut pengalaman - pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, namun juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan – kesempatan persepsi dan ungkapan baru.

2. Kehidupan Eksistensial

Kepribadian yang sehat dan terbuka kepada segala momen yang terjadi serta terdapat struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respon atas pengalaman momen berikutnya.

3. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang sendiri

Sebagai pengalaman yang menghidupkan individu agar jauh lebih sehat dengan mempertimbangkan segi situasi serta memperhitungkan keputusan yang akan memuaskan.

4. Perasaan Bebas

Melihat dari berbagai pilihan serta tidak memiliki perasaan bebas dikarenakan terlalu melihat masa depan tergantung hanya pada diri sendiri dan pandangan yang masih terlalu sempit.

5. Kreativitas

Spontan, memiliki penyesuaian diri yang pasif dan tidak menghiraukan orang lain dapat menerima perlakuan serta tingkah laku mereka. Rogers memberikan persepsi tentang sifat aktualisasi dalam diri, agresifitas, persepsi lingkungan serta melihat konsekuensi dari prilaku individu dari suatu lingkungan. Ia mempertahankan kepribadian harus diperiksa dan dipahami melalui sudut pandang pribadi klien, pengalaman – pengalamannya sendiri, demikian dalam kehidupan profesionalnya, ia percaya akan pengalaman kliennya. Realitas sangat tergantung dari penglaman – pengalaman perseptual seseorang.

C. Abraham Maslow

Maslow menjelaskan kesehatan kepribadian bukan hanya dari sisi orang yang memilki kepribadian yang kurang, seperti orang gila atau hal keadaaan terburuk, tapi ia memberikan pandangan bahwa kelebihan orang sehat dan kurang normal harus juga dipahami.

Ia menyelidiki individu – individu tersebut dengan menggunakan teknik interview, asosiasi bebas, dan projective techniques dengan orang – orang yang sudah mati dan menyimpulkan semua manusia dilahirkan dengan kebutuhan – kebutuhan instinktif. Kebutuhan-kebutuhan universal mendorong untuk bertumbuh dan berkembang, untuk mengaktualisasikan diri kita.

Dalam pandangan humanistik, manusia memiliki potensi lebih banyak daripada apa yang mereka capai. Maslow berpendapat bila kita dapat melepaskan potensi itu, maka kita semua dapat mencapai keadaan eksistensi yang ideal yang ditemukan dalam orang – orangnya yang mengaktualisasi diri.

Dorongan Kepribadian

Semua manusia memiliki kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri. Dalam memuaskan kebutuhan yang berada dalam tingkatan terendah. Kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan memiliki dan dicinta, kebutuhan akan penghargaan, dan aktualisasi diri.

Sifat – sifat Pengaktualisasi Diri

Aktualisasi diri adalah kebutuhan instinktif, namun aktualiasi diri sangat bergantung pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang memudahkan atau menghambat perkembangannya kelak.

Berbagai pengaktualisasikan diri :
·         Mengamati realitas secara efisien
·         Penerimaan umum atas kodrat, orang lain dan diri sendiri
·         Spontanistas, kesederhanaan, kewajaran
·         Kebutuhan akan privasi dan independensi
·         Minat sosial
·         Hubungan antar pribadi
·         Kreativitas 

Orang yang yang mengaktualisasi diri secara baik adalah orang – orang yang sopan santun, jujur, dan penuh perhatian dan masyrakat dapat menjadi tempat kehidupan yang lebih cocok bila lebih banyak di antara kita menampilkan sifat – sifat ini.

D. Erich Fromm

Fromm melihat kepribadian sebagai produk kebudayaan. Ia percaya kesehatan jiwa harus di definisikan menurut bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat.

Masyarakat yang tidak sehat atau sakit menciptakan permusuhan, kecurigaan, ketidakpercayaan dalam anggota-anggotanya, dan merintangi pertumbuhan penuh dari setiap individu. Masyarakat yang sehat membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain, menjadi produktif yang kreatif, mempertajam dan memperhalus tenaga pikiran dan objektivitasnya dan mempermudah timbulnya individu-individu yang berfungsi sepenuhnya.

Sebagai hasil perkembangan dari analisis-analisis historisnya, Fromm melukiskan hakikat keadaan manusia sebagai kesepian dan ketidakberartian. Menurutnya, kita adalah makhluk yang unik dan kesepian. Sebagai akibat evolusi kita dari binatang-binatang yang lebih rendah, kita tidak lagi bersatu dengan alam, kita telah mengatasi alam. Tidak seperti tingkah laku binatang, tingkah laku kita tidak terikat pada mekanisme-mekanisme instinktif.

Akan tetapi perbedaan yang sangat penting antara manusia dan binatang yang lebih rendah terletak pada kemampuan kita akan kesadaran diri, pikiran, dan khayal. Terdapat kebebasan kepribadian yang lebih besar dalam interaksi-interaksi dengan orang-orang lain dan dengan Tuhan, dan peranan-peranan sosial lebih fleksibel. Tentu saja, kita mencapai perasaan bebas yang lebih besar dengan mengorbankan ikatan-ikatan yang telah memberikan perasaan aman dan perasaan memiliki. Ciri kondisi manusia ialah perasaan isolasi dan alienasi, tidak hanya dari alam tetapi juga dari masyarakat dan sesama kita manusia.

Dorongan Kepribadian

Semua manusia sehat dan tidak sehat didorong oleh kebutuhan-kebutuhan tersebut, perbedaannya terletak dalam cara bagaimana kebutuhan-kebutuhan ini dipuaskan. Orang-orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif. Orang-orang yang sakit memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara-cara irasional.


   5 kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan menurut Fromm:

1. Hubungan
Fromm percaya pemuasan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat penting untuk kesehatan psikologis. Beberapa cara untuk menemukan hubungan adalah destruktif (tidak sehat), dan cara-cara lainnya konstruktif (sehat). Seseorang dapat berusaha bersatu dengan dunia dengan bersikap tunduk kepada orang lain, kepada suatu kelompok, atau kepada sesuatu yang ideal, seperti Tuhan. Kemungkinan lain seseorang dapat berusaha untuk berhubungan dengan dunia dengan menguasainya, dengan memaksa orang-orang lain tunduk kepadanya.
2. Trasendensi
Erat hubungannya dengan kebutuhan hubungan ialah kebutuhan manusia untuk mengatasi atau melebihi peranan-peranan pasif sebagai ciptaan. Karena menyadari kodrat kelahiran dan kematian aksidental dan watak eksistensi yang serampangan, manusia didorong untuk melebihi keadaan tercipta menjadi pencipta, pembentuk yang aktif dari kehidupannya sendiri.
3. Berakar cara yang ideal
Dengan mepertahankan ikatan-ikatan sumbang dalam setiap tingkat,  seseorang menutup pengalaman-pengalaman tertentu dan membatasi cinta dan solidaritas hanya untuk beberapa manusia. Situasi ini tidak membiarkan perhatian, pembagian, dan partisipasi penuh dengan dunia pada umumnya yang merupakan suatu syarat untuk kesehatan psikologis.
4. Perasaan identitas
Proses dimana seseorang mencapai suatu perasaan tertentu tentang identitas diri. Sejauh mana kita masing-masing mengalami suatu perasaan yang unik tentang diri (selfhood) tergantung pada bagaimana kita berhasil memutuskan ikatan-ikatan sumbang dengan keluarga, suku, atau bangsa kita. Orang-orang dengan perasaan individualitas yang berkembang baik mengalami diri mereka seperti lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri, dan kehidupan mereka tidak dibentuk oleh orang-orang lain. Dengan cara ini, identitas ditentukan berdasarkan kualitas-kualitas suatu kelompok, bukan berdasarkan kualitas-kualitas diri.
5. Kerangka orientasi dasar
Semakin objektif persepsi kita, semakin juga kita berhubungan dengan kenyataan, jadi semakin matang dan semakin tangkas pula kita dalam menanggulangi dunia luar. Pikiran harus dikembangkan dan diterapkan dalam semua segi kehidupan. Suatu yang kurang ideal dalam membangun suatu kerangka orientasi adalah lewat irasionalitas.

Kepribadian yang sehat menurut Fromm adalah pribadi yang produktif yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Kepribadian yang sehat menurut Fromm ditandai beberapa hal antara lain pola hubungan yang sehat (konstruktif), bukan atas dasar ketergantungan ataupun kekuasaan dalam hubungan dengan orang lain, kelompok, dan Tuhan. Transendensi (kebutuhan untuk melebihi peran-peran pasif, melampaui perasaan tercipta menjadi pencipta yang aktif-kreatif). Perasaan berakar yang diperoleh melalui persaudaraan dengan sesama umat manusia, perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan identitas sebagai individu yang unik. Memiliki kerangka orientasi (frame of reference) yang mendasari interpretasinya yang objektif terhadap berbagai peristiwa.

Sumber :
Hall. S. C, Lindzey. G. 1993. Psikologi Kepribadian 2. Yogyakarta: Kanisius.
Kholil Lur Rochman. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: STAIN Press.
Chaplin. J. P. 1981. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Schultz Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Wednesday, March 27, 2013

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan Personal


TULISAN 3

A. Penyesuaian Diri

Penyesuain diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
  • penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
  • penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
  • penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery)

Mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi umumnya lebih mengarah kepada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang terbiasa dengan lingkungan yang sepi seperti di perkampungan dan udara yang sejuk terus pindah ke tempat ramai seperti perkotaan dengan udara yang panas maka seseorang harus bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain. Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional.

Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.

Manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan baik (good adjustment) adalah apabila seseorang menampilkan respon yang matang, efisien, memuaskan, dan wholesome. Yang dimaksud dengan respon yang efisien adalah respon yang hasilnya sesuai dengan harapan tanpa membuang banyak energi, waktu atau sejumlah kesalahan. Wholesome maksudnya adalah respon yang ditampilkan adalah sesuai dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan sesama manusia, dan hubungannya dengan Tuhan. Manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan baik maka hidupnya akan harmonis dan jauh dari penyimpangan-penyimpangan begitu juga sebaliknya apabila seseorang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri mereka akan mengalami maladjustment yang ditandai dengan penyimpangan atau perilaku yang menyimpang yang tidak berlaku di lingkungan tersebut.

Penyesuaian diri bersifat relatif, karena tidak ada orang yang mampu menyesuaikan diri secara sempurna. Alasan pertama penyesuaian diri bersifat relatif adalah melibatkan kapasitas atau kemampuan seseorang dalam beradaptasi baik dari dalam maupun dengan lingkungan. Kedua adalah karena adanya perbedaan kualitas penyesuaian diri antara satu masyarakat atau budaya dengan masyarakat atau budaya lainnya. Terakhir adalah karena adanya perbedaan-perbedaan pada setiap individu, setiap orang mengalami masa naik dan turun dalam penyesuaian diri.

Aspek-aspek Penyesuaian Diri

Pada penyesuaian diri ada dua aspek yaitu:

1.  Penyesuaian Pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Pada penyesuain ini seseorang menyadari siapa dirinya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.
Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan:
  • tidak adanya rasa benci
  • lari dari kenyataan atau tanggungjawab
  • kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya.

Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan:
  • adanya perasaan yang tenang tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah
  • rasa cemas
  • rasa tidak puas
  • rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.
Kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan:
  •     keguncangan emosi
  •   kecemasan
  •   ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya dan dapat berdampak negative atau perilaku yang menyimpang.

2.  Penyesuaian Sosial 

Setiap individu hidup di dalam lingkup sosial. Di dalam lingkup sosial (masyarakat) terjadi proses saling  mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari.  Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum.

Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.

Kedua penyesuaian di atas adalah dasar agar indvidu dapat menyesuaikan diri dengan baik tanpa adanya perilaku penyimpangan yang tidak sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang terdapat di suatu lingkungan tersebut.


Pembentukan Penyesuaian Diri

3 lingkungan yang dapat membentuk penyesuaian diri individu, yaitu:

a.  Lingkungan Keluarga

Semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri akan menjadi lebih baik bila dalam keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti.

Rasa dekat dengan keluarga adalah salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang individu. Lingkungan keluarga juga merupakan lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, salah satunya kemampuan untuk penyusuaian diri terhadap lingkungan baik secara fisiologis maupun psikologis apabila individu di ajarkan dengan baik oleh orang tuanya maka kelak seorang individu dapat menyesuaikan diri dengan baik dengan norma-norma yang berlaku di lingkungannya.

Dalam keluarga individu juga belajar agar tidak menjadi egois, ia diharapkan dapat berbagi dengan anggota keluarga yang lain. Individu belajar untuk menghargai hak orang lain dan cara penyesuaian diri dengan anggota keluarga, mulai orang tua, kakak, adik, kerabat maupun pembantu. Kemudian dalam lingkungan keluarga individu mempelajari dasar dari cara bergaul dengan orang lain, yang biasanya terjadi melalui pengamatan terhadap tingkah laku dan reaksi orang lain dalam berbagai keadaan. Biasanya yang menjadi acuan adalah tokoh orang tua atau seseorang yang menjadi idolanya. Oleh karena itu, orangtua pun dituntut untuk mampu menunjukkan sikap-sikap atau tindakan-tindkan  yang mendukung hal tersebut.

Dalam hasil interaksi dengan keluarganya individu juga mempelajari sejumlah adat dan kebiasaan dalam makan, minum, berpakaian, cara berjalan, berbicara, duduk dan lain sebagainya. Selain itu dalam keluarga masih banyak hal lain yang sangat berperan dalam proses pembentukan kemampuan penyesuaian diri yang sehat, seperti rasa percaya pada orang lain atau diri sendiri, pengendalian rasa ketakutan, toleransi, kefanatikan, kerjasama, keeratan, kehangatan dan rasa aman karena semua hal tersebut akan berguna bagi masa depannya.

b.  Lingkungan Teman Sebaya 

Begitu pula dalam kehidupan pertemanan, pembentukan hubungan yang erat diantara kawan-kawan akan membantu individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan apalagi saat individu beranjak remaja dan dengan adanya pertemanan yang erat akan membantu dirinya dalam penerimaan terhadap keadaan dirinya sendiri. Hal ini sangat membantu diri individu dalam memahami pola-pola dan ciri-ciri yang menjadikan dirinya berbeda dari orang lain. Semakin mengerti ia akan dirinya maka individu akan semakin meningkat kebutuhannya untuk berusaha untuk menerima dirinya dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Dengan demikian ia akan menemukan cara penyesuaian diri yang tepat sessuai dengan potensi yang dimilikinya.

c.  Lingkungan Sekolah 

Sekolah mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan informasi saja, akan tetapi juga mencakup tanggungjawab pendidikan secara luas. Demikian pula dengan guru, tugasnya tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pendidik yang menjadi pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama dalam pembentukan kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.

Proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut kepentingan perkembangan dan spiritual individu. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada cara kerja dan metode yang digunakan oleh pendidik dalam penyesuaian tersebut. Jadi disini peran guru sangat berperan penting dalam pembentukan kemampuan penyesuaian diri individu.

B. Pertumbuhan Personal

Setiap individu akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga.

Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.

Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:

1. Faktor genetik
  • Faktor keturunan — masa konsepsi
  •  Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
  • Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen
  • Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.

2. Faktor eksternal / lingkungan

  • Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan
  • Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya 


Dari faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

Aliran asosiasi

Perubahan terhadap seseorang secara bertahap karena pengaruh dan pengalaman atau empiri (kenyataan) luar, melalui panca indera yang menimbulkan sensation (perasaan) maupun pengalaman mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflection.

Psikologi Gestalt

Pertumbuhan adalah proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal sesuatu secara keseluruhan, baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada.

Aliran sosiologi

Pertumbuhan adalah proses sosialisasi yaitu proses perubahan dari sifat yang semula asosial maupun sosial kemudian tahap demi tahap disosialisasikan. Pertumbuhan individu sangat penting untuk dijaga dari sejak lahir agar bisa tumbuh menjadi individu yang baik dan berguna untuk sesamanya.

Sumber:
Lur Rochman, Kholil. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: STAIN press.
Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset
http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/penyesuaian-diri-pertumbuhan-personal.html

Teori Kepribadian Sehat


TULISAN 2

Teori Kepribadian Sehat

A. Aliran Psikoanalisa

Tokoh aliran ini adalah Sigmund Freud. Freud melihat individu dari sisi negatifnya baik dari alam bawah sadar (id, ego dan super ego) sesuatu yang timbul dalam dirinya, mimpi dan masa lalu, misalnya:
  • Terbatas mengabaikan potensi yang dimiliki individu
  • Melihat dari sisi debagai kodrat manusia yang negatif
  • Memberikan gambaran psimistis tentang kodrat manusia dalam hal ini manusia adalah korban dari tekanan-tekanan dan konflik masa kanak-kanak

B. Aliran Behavioristik


Dalam aliran ini manusia diperlakukan seperti mesin, maksudnya manusia sudah mengatur segala sesuatunya sebagai suatu sistem yang kompleks yag bertingkah laku menurut cara yang sesuai hukum, misalnya:

  • Manusia sudah teratur dengan apa yang sudah menjadi fungsinya masing-masing yang sudah tersusun baik dan di tentukan sebelumnya dengan banyak spontanitas.
  • Dengan kegembiraan hidup dan kreativitas layaknya alat pengatur panas dan menganggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.

Jadi, individu adalah manusia biasa yang memberikan respon positif terhadap stimulus dari luar.

C. Aliran Humanistik


Aliran ini memandang setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjadi lebih baik dan memiliki pandangan optimistik dan bisa maju (berkembang), misalnya:

  • Memiliki pandangan yang segar tentang manusia
  • Melihat potensi diri individu untuk tumbuh berkembang sesuai keinginan untuk lebih baik atau lebih banyak dari pada apa yang ada di dalam diri individu itu sendiri.

Aliran ini sangat berbeda dengan psikoanalisa dan behavioristik yang mengabaikan potensi diri pada individu.
Kritikan aliran humanistik terhadap aliran psikoanalisa dan behavioristik
Kritikan diarahkan terutama kepada perspektif dan metodenya yang subjektif, dan tidak reliabel.


Terhadap Behavioristik



Behaviorisme yang bersifat mekanis dan mementingkan masa lalu ini tidak seperti yang di pahami oleh aliran humanistik, pada aliran humanistik sendiri adalah individu cenderung mempunyai kemampuan atau keinginan untuk berkembang melebihi yang ada pada dalam dirinya dan percaya pada kodrat biologis dan ciri lingungan tidak menekankan pada tingkah laku yang nampak dan menggunakan metode objektif seperti halnya aliran behaviorisme.


Terhadap Psikoanalisa


Aliran humanistik tidak menyetujui sifat pesimisme karena dalam aliran humanistik individu itu memiliki sifat yang optimistik dan apabila pada psikoanalisa Freud menekankan pada masa lalu,karena dalam behaviorisme percaya pada kodrati individu yang maksudnya individu pasti dapat dan harus mengatasi masa lampau.

Selain itu juga manusia dapat berkembang dengan potensi yang dimilikinya dan tidak mengabaikan potensi seperti aliran psikoanalisis.

Pada dasarnya kedua teori ini sama-sama mengabaikan potensi atau kodrat manusia. Akan tetapi ada beberapa perbedaan juga yang sangat mendasar. Sebagai berikut :

Psikoanalisa:
  • Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini
  •  Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
  • Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
  • Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif
  • Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.
  • Dalam aliran Psikoanalisa ini bisa dibilang manusia adalah korban tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak. Aliran ini melihat dari sisi negatif individu, alam bawah sadar (id, ego, superego, mimpi) dan masa lalu.

Behaviorisme:
  • Mementingkan faktor lingkungan
  • Menekankan pada faktor bagian
  • Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
  • Sifatnya mekanis
  •  Mementingkan masa lalu
  • Manusia diperlukan sebagai mesin, layaknya alat pengatur panas yang mengatur semuanya. Aliran ini menganggap manusia yang memberikan respons positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia dianggap tidak memiliki sikap diri sendiri. Ciri-cirinya yaitu : tersusun baik,        teratur dan ditentukan sebelumnyadengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan kreativitas.



Humanistik:

Abraham Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari Psikologi Humanistik ini. Gerakan ini merasa tidak puas terhadap Psikologi behavioristik dan Psikoanalisis.

Menurut Maslow Psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat manusia, selain mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak nampak.
Mempelajari ketidak sadaran sekaligus mempelajari kesadaran. Introspeksi sebagai suatu metoda penelitian yang telah disingkirikan, harus dikembalikan lagi sebagai metoda penelitian psikologi.

Ciri-ciri psikologi yang berorientasi Humanistik, yaitu:
  • Memusatkan perhatian pada person mengalami, dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
  • Memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreativitas, akutalisasi diri, sebagai lawan pandang tentang manusia yang mekanistis dan reduksionistis.
  • Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
  • Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu.

Selain Maslow, tokoh dalam Psikologi Humanistik adalah Carl Rogers, yang terkenal dengan client-centered therapy.

Konsep yang menjadikan teori aliran psikologi humanistik tiada duanya adalah konsep dari tokoh aliran ini yaitu Abraham Maslow yang menyatakan “studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya mutlak menjadi fondasi bagi sebuah ilmu psokologis yang lebih semesta (Frank Goble,1993,34)



Krtik-kritik dari psikologis humanistik menunjukkan perbedaaan dan asumsi yang berbeda dengan aliran –aliran lain:
  • Psikologi humanistik tidak mengagungkan metode statistik dan serba rata-rata tetapi melihat pada yang mungkin dan harus ada.
  • Psikologis humanistik tidak berlebihan melakukan penelitian eksperimen pada binatang tetapi pada kodrat manusia beserta sifat-sifat manusia yang positif.
  • Aliran humanistik lebih memandang manusia sebagai pribadi yang unik atau kreatif dan dapat mengembangkan dirinya ke yang lebih baik lagi sesuai dengan kemampuannya dan cenderung punya pandangan yang segar tentang manusia.

Sumber:
Basuki, Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
Lur Rochman, Kholil. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: STAIN press.
Schultz, Duane. 1991.Psikologi Pertumbuhan.Yogyakarta: Kanisius.
Nurihsan, J. 2007.Teori Kepribadian. Bandung : Remaja Rosdakarya
http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/kepribadian-sehat-ditinjau-dari.html